Senin, 07 September 2009
JURNAL MATKUL PROBLEMATIK BK
SEBUAH KAJIAN DALAM PERSPEKTIF RELIGI DAN BUDAYA
Abstrak : Kehormatan seorang konselor merupakan bagaimana pencitraan konselor di mata masyarakat, bagaimana peran dan fungsi konselor bisa diakui oleh masyarakat. Kehormatan dari segi budaya diwujudkan dalam kepekaan konselor akan nilai-nilai dirinya dan nilai-nilai kliennya, dan keduanya mungkin berbeda. Penghormatan terhadap konselor muncul ketika seorang konselor bisa mencitrakan dirinya sesuai dengan agama yang dia anut.
Kata Kunci : Kehormatan, Budaya, Agama
Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah merupakan bagian integral dari pendidikan sekolah. Keberadaaan BK di sekolah menunjang untuk mencapai perkembangan optimal peserta didik atau siswa. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang baik tak lepas dari peran-peran konselor yang memiliki kompetensi dan professional di bidangnya. Konselor merupakan seseorang yang membantu memecahkan masalah konseli. Seorang konselor harus memiliki berbagai kompetensi, seperti kompetensi pribadi, personal hingga kompetensi profesional. Konselor yang baik adalah konselor yang dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dengan memegang teguh etika dan kode etik bimbingan konseling. Layanan atau bantuan yang diberikan harus benar-benar memperhatikan aspek-aspek yang ada pada diri konseli sehingga layanan yang diberikan tidak hanya sekedar berdasar dari pengalaman belaka.
Namun pada kenyataanya bimbingan dan konseling yang diharapkan dapat menunjang perkembangan siswa ke arah perkembangan yang optimal, ternyata tidak berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi karena adanya konselor yang kurang dapat memegang teguh kode etik dan kurang memiliki kompetensi profesional dalam membantu konselinya. Konselor seperti ini memberikan layanan bantuan pada konseli berdasarkan pengalamannya saja. Oleh karena itu, konselor yang seperti ini dipandang masyarakat menjadi konselor yang kurang baik “kurang terhormat”, bisa juga dikatakan bahwa konselor ini melakukan “mal praktek” kepada konseli. Tindakan dari segelintir konselor ini memunculkan citra yang kurang terhormat pada seorang konselor di masyarakat.
Oleh karena itu, seorang konselor harus memperhatikan aspek-aspek budaya dan religi dalam memberikan layanan bantuan kepada konseli. Hal ini dimaksudkan agar layanan yang diberikan oleh konselor dapat dengan tepat memecahkan masalah dari konseli.sehingga pandangan masyarakat terhadap kerja konselor dapat berubah menjadi lebih baik.
MASALAH
Bagaimana sebenarnya seorang konselor yang kurang melakukan profesinya secara profesional, sehingga masyarakat kurang bisa menghormati profesi seorang konselor. Pada kenyataannya bahwa dalam masyarakat kita yang sangat kental dengan ajaran agama dan nilai budaya, tidak begitu mengakui bahwa konselor bisa menyelesaikan masalah mereka. Lebih banyak masyarakat yang lebih percaya pada kyai, ustad, orang pintar, mereka dianggap dapat menyelesaikan masalah dengan lebih cepat dan efisien, Para professional tersebut lebih memiliki nilai kehormatan di mata masyarakat daripada konselor. Ditambah lagi dengan banyaknya masalah para konselor yang tidak bisa melakukan profesinya dengan profesional, masih banyak konselor yang melanggar kode etik profesi dan melakukan malpraktek, misalnya saja dikatakan bahwa konselor adalah helper tapi mengapa banyak konselor yang melakukan hukuman fisik. Sehingga hal ini menjadi wajar ketika praktek professional konselor kurang memiliki nilai kehormatan.
FOKUS MASALAH
Berdasarkan masalah yang ada di atas, maka fokus masalahnya adalah ”Bagaimana mengaktualkan kehormatan konselor dalam praktek profesional” sehingga profesi seorang konselor menjadi terhormat dari segi budaya dan agama.
PEMBAHASAN
Budaya akan mempengaruhi nilai-nilai dasar dan keyakinan seseorang. Seperti yang telah dijelaskan oleh Ibrahim bahwa pembentukan kebudayaan sebagai proses bagaimana kelompok manusia membentuk pandangan dunia atau filsafat hidup. Sehingga dengan kata lain budaya dalam suatu masyarakat mencerminkan filsafat hidup yang dianut, dan tentunya budaya antar pribadi berbeda begitu pula dengan budaya antar masyarakat. Ketika orang-orang yang berasal dari beragam budaya berhubungan antara satu dengan yang lain, mereka memulainya dengan persepsi-perepsi yang berbeda-beda tentang hakekat manusia, apa kebutuhannya, bagaimana orang mencapai keberhasilan dan hubungan manusia dengan alam.
Permasalahan yang kerap terjadi saat ini dalam bimbingan konseling adalah pandangan masyarakat yang kurang menghormati keprofesionalan konselor. Segala permasalahan yang terjadi pada siswa selalu dilimpahkan pada konselor sehingga banyak asumsi masyarakat bahwa konselor serba bisa, memaksakan nilai-nilai budayanya kepada konseli dan lain sebagainya. Hal ini mengakibatkan citra diri konselor menjadi kurang baik dimata masyarakat. Banyak masyarakat yang kurang menghormati fungsi dan peran konselor.
Kehormatan Profesional Konselor Dari Segi Budaya
Nilai budaya yang dianut oleh masyarakat tertentu pada umumnya dianggap mutlak kebenarannya. Hal ini tampak pada perilaku yang ditampakkan oleh anggota masyarakat itu. Mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dianggap benar itu dapat dijadikan panutan dalam menjalani hidup sehari hari. Selain itu, nilai budaya yang diyakini kebenarannya tersebut dapat dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah yang timbul. Dengan kata lain bahwa nilai budaya tertentu yang ada dalam suatu masyarakat mempunyai suatu cara tersendiri untuk memecahkan permasa¬lahan yang timbul dalam anggota masyarakat tersebut (Lee & Sirch, 1994).
Masyarakat menciptakan hukum adat, dimana hukum adat itu dibuat untuk menjaga tata tertib dan dijaga sedemikian rupa sehingga mereka mempunyai suatu ketaatan yang seolah olah otomatis terhadap adat, dan kalau ada pelanggaran, maka secara otomatis pula akan timbul reaksi mesyarakat untuk menghukum pelanggar itu (Radclifle & Brown, dalam Koentjaraningrat:1990). Dengan demikkian, hukum adat itu akan langsung mengikat anggota masyarakatnya, dan mereka tidak akan lepas dari nilai nilai atau peraturan yang telah disepakati bersama.
Menurut pratiwi (2008) Masyarakat bermartabat adalah mereka yang dalam kehidupannya menganut kebudayaan dan etika. Pilar masyarakat beretika adalah (a) hormat kepada orang tua,(b) hormat kepada guru,dan(c) hormat kepada pemimpin. Jika dalam suatu masyarakat pemimpin tidak lagi dihormati maka guru dan nanti pada gilirannya orang tua juga tidak dihormati oleh anaknya. Kehormatan itu melekat pada diri setiap orang. Orang yang terhormat tetap terhormat meski tidak dihormati. Kehormatan konselor adalah mana kala hidupnya mencerminkan kualitas konselor yang profesional. Tentunya dalam hal ini konselor memiliki pengatahuan tantang diri sendiri, kompetensi,kekuatan, kejujuran dan lain sebagainya.
Kehormatan Profesional Konselor Dari Segi Religi
Toleransi dan rasa hormat merupakan dua kata yang amat penting, yang harus diingat dalam suatu masyarakat yang multi religius. Seseorang tidak boleh hanya mengkhotbahkan sikap tenggang rasa, tetapi harus berusaha, pada setiap kesempatan yang memungkinkan, untuk selalu melaksanakan semangat keramahan, toleransi, sebab semangat itu akan amat membantu menciptakan suasana yang mengarah pada kehidupan damai dan serasi. Kita mungkin tidak dapat memahami atau menghargai nilai-nilai intrinsik dari upacara atau kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu. Demikian pula orang lain, mungkin tidak bisa memahami atau menghargai upacara atau kebiasaan kita sendiri. Jika kita tak menghendaki orang lain menertawakan perbuatan kita, janganlah kita menertawakan orang lain. Kita harus berusaha mencari arti atau memahami kebiasaan-kebiasaan yang asing bagi kita karena hal ini akan membantu menimbulkan pengertian yang lebih baik, sehingga kita dapat meningkatkan semangat toleransi di antara para penganut agama yang bermacam-macam(Prasetya:2008).
Menurut Ball (Ball,1998:112) yang menyatakan bahwa agama sebagai bagian hidup kesusilaan manusia dan memiliki nilai susila yang tinggi. Sehingga dengan kata lain dalam agama pun mengatur tentang perilaku manusia. Penghormatan terhadap konselor muncul ketika seorang konselor bisa mencitrakan dirinya sesuai dengan agama yang dia anut. Karena pada semua ajaran agama sudah diatur tentang perbuatan-perbuatan yang tidak terhormat, atau biasa kita istilahkan dengan perbuatan “dosa”. Perbuatan yang tidak etis secara agama dan di mata masyarakat. Misalnya, seorang konselor yang mengajak para konselinya untuk melakukan kebaikan, menjelaskan tentang bahaya mabuk dan narkoba tapi dia sendiri malah melanggar hal tersebut, jadi bagaimana bisa masyarakat bisa menghormati seorang konselor.
Orang yang percaya pada tuhan YME selalu merasa dilindungi dalam situasi dan keadaan apapun, karena mereka meyakini bahwa tidak adanya daya, upaya, dan kekuatan apapun yang membinaakannya kalau tuhan tidak mengijinkannya. Pengertian religi dapat dipakai secara alamiah. Berarti apa yang kita katakan mengenai religi secara umum ataupun secara khusus dapat dijuji kebenarannya. Jadi setiap manusia harus dapat menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan itu benar atau tidak benar dan hal itu tidak dapat dilakukan jika ilmu agama bertolak dari agama (wahyu). Wahyu adalah sesuatu yang datang dari Tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh daya pikir manusia. Akan tetapi wahyu bukan merupaan ideologi dan bukan pula sesuatu kebudayaan. Orang yang terhormat secara religi menghendaki tiga kebenaran utama, yaitu: percaya bahwa Tuhan ada, percaya kepada hukum kesusilaan alamiah, dan pada roh yang abadi.
SIMPULAN
Budaya mempengaruhi nilai-nilai dasar dan keyakinan seseorang. Ketika orang-orang yang berasal dari beragam budaya berhubungan antara satu dengan yang lain, mereka memulainya dengan persepsi-perepsi yang berbeda-beda tentang hakekat manusia, apa kebutuhannya, bagaimana orang mencapai keberhasilan dan hubungan manusia dengan alam. Agama adalah suatu arti kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyakat mempunyai cara berfikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut ”religi” ( agama ). Banyak dari apa yang berjudul agama termasuk dalm super struktur: agama terdiri dari tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka, akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial.
Seorang konselor seharusnya dapat menghargai kepercayan orang lain. Dan menghormati keyakinan orang lain tentang suatu kepercayaan. Seorag konselor yang memiliki ancangan atau pendekatan dalam melakukan pekerjaannya secara profesional dengan menggunakan orientasi tindakan (acting approach), pemikiran (thinking aproach), perasan (feeling aproach). Namun walaupun konselor bebas memilih orientasi manapun yang dianutnya tapi harus tetap memperhatikan norma yang ada.
DAFTAR RUJUKAN
Baal, van J.1998.Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970).Jakarta:PT Gramedia.
Flurentin, Elia.2001.Konseling Lintas Budaya.Malang:Departemen Pendidikan Nasional UM.
Kaplan, David dan Manners, Albert A, Terj Landung Simatupang.1999.Teori Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat, 1986. Pengantar Imu Antropologi.Jakarta: Aksara Baru
Pratiwi ,Ratih Putri.28 Oktober 2008. Problematika Bimbingan Konseling Di Sekolah(Online)(www. Pratiwi.wordpress.com diakses 21 Maret 2009).
Prasetya,Teguh Iman.25 September 2008.Kajian Budaya Religi dan Ritual(Online)(www.prasetya.blogspot.com diakses 5 April 2009)
Pelly, Usman dan Menanty Asih.2004.Teori-Teori Sosial Budaya.Jakarta:Proyek Pembinaan Dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kamis, 03 September 2009
CARA BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK
Dalam organisasi, kita harus melakukan komunikasi dengan berbagai orang. Untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, Anda perlu gaya tersendiri sebagai seorang yang profesional dalam pekerjaan. Berikut ini ada beberapa tips.
1. Latih diri Anda untuk tidak gugup bila berbicara dengan orang lain.Ini perlu banyak latihan, misalnya dengan menjadi anggota klub para bos atau sering berhubungan dengan mereka, Anda akan mulai merasa familiar dan tidak takut salah. Kepercayaan diri atau "keamanan" inilah yang menyebabkan Anda tidak mudah gugup. Sebagai test, cobalah sering bercanda dan beradu pendapat dengan kelompok teman. Kalau Anda mampu mengatasi berbagai ejekan dan gurauan teman, artinya Anda tidak akan mudah gugup dalam berbicara.
2. Pilihlah kalimat seefektif mungkin.Jika bicara dengan bos, gunakan kalimat langsung pada sasaran pembicaraan. Beri pengantar sedikit tentang jalan ceritanya, lalu to the point pada laporan Anda. Hindari cerita yang tidak perlu. Berhati-hati jika menceritakan hal-hal pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Begitu lawan bicara Anda paham maksud Anda, jangan mengulang-ulang isi pembicaraan. Lanjutkan pembicaraan, atau hentikan pembicaraan supaya tidak membuang waktu orang lain.
3. Sebisa mungkin, gunakan gaya serius dalam membicarakan pekerjaan. Konsentrasi pada apa yang Anda bicarakan dan tidak melantur kemana-mana. Tunjukkan sikap yang menunjukkan keseriusan Anda. Keseriusan Anda akan ditopang oleh persiapan sebelumnya. Jika Anda telah siap dengan berbagai data dan informasi yang relevan, maka Anda akan siap untuk bicara serius.
4. Gunakan humor seperlunya jika diperlukan untuk mencairkan suasana, dan jangan berusaha membuat orang lain untuk tertawa. Jika orang lain tidak tertawa, lanjutkan saja pembicaraan.
5. Sikap Anda menentukan kesan lawan bicara Anda. Gunakan sikap santai tetapi tetap berkonsentrasi pada pembicaraan. Ada beberapa gaya khas, misalnya duduk menaruh kedua tangan diatas meja dan bicara, melipat tangan, memegang buku, sesekali menopang dagu, dll. Anda bisa mempelajari berbagai gaya ini dengan melihat orang lain dan menirunya.
6. Tempo bicara juga menentukan. Jangan berbicara terlalu lambat. Ungkapkan dengan optimis dan PeDe dengan kecepatan normal. Hindari menggumam dalam mengatakan sesuatu.
